| Latar belakang masalah menunjukkan bahwa meskipun Undang-Undang
Perkawinan bertujuan membentuk keluarga bahagia dan kekal, serta adanya batasan
usia pernikahan, banyak rumah tangga masih menghadapi tantangan. Kedewasaan
emosi diidentifikasi sebagai faktor krusial yang mempengaruhi kualitas hubungan,
komunikasi, dan penyelesaian konflik. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan
pengalaman dan perspektif pasangan di Desa Leranwetan mengenai peran
kedewasaan emosi dalam mencapai dan mempertahankan keharmonisan.
Berdasarkan pada latar belakang, Penelitian ini diharapkan memberikan
jawaban rumusan masalah yang ada, yaitu: (1) Bagaimana urgensi kedewasaan emosi
terhadap resolusi konflik rumah tangga Desa Leranwetan (2) Bagaimana pandangan
dan pengalaman pasangan suami istri di Desa Leranwetan mengenai peran
kedewasaan emosi dalam membangun dan mempertahankan keharmonisan rumah
tangga ? Berdasarkan rumusan maasalah tersebut peneliti bertujuan (1) Untuk
mengungkapkan bagaimana kedewasaan emosi dapat meningkatkan resolusi konflik
dalam rumah tangga Desa Leranwetan. (2) Untuk mengeksplorasi pandangan dan
pengalaman pasangan suami istri di Desa Leranwetan mengenai peran kedewasaan
emosi dalam membangun dan mempertahankan keharmonisan rumah tangga dalam
konteks sosial dan budaya setempat.
Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan jenis penelitian
deskriptif serta menerapkan metode empiris. Tujuan dari pendekatan deskriptif ini
adalah untuk memahami dan mengkaji situasi serta kondisi objek penelitian secara
mendalam melalui teknik wawancara, observasi, dan dokumentasi. Data yang
diperoleh kemudian dianalisis untuk merumuskan pemahaman atau teori yang relevan.
Sumber data dalam penelitian ini terdiri atas data primer dan data sekunder. Data
primer diperoleh secara langsung dari pasangan suami istri desa Leranwetan.
Sementara itu, data sekunder digunakan sebagai pelengkap dan pendukung, yang
berasal dari berbagai referensi dan literatur yang relevan.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa kedewasaan emosi memiliki peran
krusial dalam membangun dan mempertahankan keharmonisan rumah tangga bagi
pasangan di Desa Leranwetan. Temuan utama mengindikasikan bahwa pasangan
yang matang secara emosi mampu mengelola emosi pribadi dengan baik,
menunjukkan empati terhadap pasangan, serta mempraktikkan komunikasi yang efektif
dan konstruktif. Mereka cenderung bersedia menurunkan ego, meredam emosi saat
konflik, dan mencari solusi bersama.
Dari Hasil penelitian dapat disimpulkan (1) kedewasaan emosi adalah fondasi
utama bagi keharmonisan dan kekuatan rumah tangga.(2) pengalaman pasangan
suami istri desa Leranwetan, kemampuan mengelola emosi, berempati, berkomunikasi
efektif, dan beradaptasi adalah bentuk membangun keharmonisan rumah tangga.
Hasil penelitian ini diharapkan bisa dijadikan landasan dalam riset lebih lanjut
mengenai bidang kajian yang serupa dalam lingkup yang variatif. |